Friday, November 4, 2011

10 awal Dzulhijah



Ahlan wasahlan ke laman sesawang ana yang dah bersawang ni..

Bismillahi wal hamdulillah, detik masa semakin melangkah pergi, namun terasa diri semakin jauh dari Illahi,

Mungkin dek kesibukan kerja dan taklifan-taklifan yang semakin bertambah.

Kadang diri terasa lemah dan tidak bermaya,

keikhlasan bekerja semakin menyongsang lari meninggalkan kita,

..dan ketika ini diri memerlukan motivasi.

‘Assamah perlu disemarakkan.

Ia perlu bagi merangsang kesungguhan kita melakukan ibadah..

Hari ni mungkin ana rasa agak tidak bermaya, mengadap skrin komputer 8 jam sehari, naik muntah rasanya, di darabkan dengan 6 hari bekerja.. lama-lama boleh jadi robot bergerak mungkin, namun seperti yang ana sebutkan tadi, keikhlasan perlu dijana, baru diri jadi lebih bersemangat. kadang-kadang kita perlu mengetahui sebab kenapa kita melakukan sesuatu, barulah diri akan termotivasi, menyuntik semangat beribadah padaNya. menyumbang jasa pada makhluk disekeliling

Jadi, bagi yang rasa keletihan, namun menggagahkan diri untuk merebut puasa sunat, beribadah mengejar fadhilat di sepuluh hari pertama Dzulhijah,

Di sini ana kongsikan sedikit input, hikmah di sepuluh hari awal Dzulhijah,

moga kita terus bersemangat dan berkobar-kobar melakukan ibadah.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ : وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ.

“Tidak ada hari-hari yang pada waktu itu amal shaleh lebih dicintai oleh Allah melebihi sepuluh hari pertama (di bulan Dzulhijjah).” Para sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya, “Wahai Rasulullah, juga (melebihi keutamaan) jihad di jalan Allah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Ya, melebihi) jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang keluar (berjihad di jalan Allah) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun.”[1]

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan beramal shaleh pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu, Imam an-Nawawi dalam kitab beliau Riyadhush Shalihin[2] mencantumkan hadits ini pada bab: Keutamaan ibadah puasa dan (ibadah-ibadah) lainnya pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah.
Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini:
  1. Allah melebihkan keutamaan zaman/waktu tertentu di atas zaman/waktu lainnya, dan Dia mensyariatkan padanya ibadah dan amal shaleh untuk mendekatkan diri kepada-Nya[3].
  2. Karena besarnya keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini, Allah Ta’ala sampai bersumpah dengannya dalam firman-Nya: وَلَيَالٍ عَشْرٍ  “Dan demi malam yang sepuluh.” (Qs. al-Fajr: 2). Yaitu: sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah, menurut pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab[4], [serta menjadi pendapat mayoritas ulama].
  3. Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani berkata, “Tampaknya sebab yang menjadikan istimewanya sepuluh hari (pertama) Dzulhijjah adalah kerana padanya terkumpul ibadah-ibadah induk (besar), yaitu: shalat, puasa, sedekah dan haji, yang (semua) ini tidak terdapat pada hari-hari yang lain.”[5]
  4. Amal shaleh dalam hadits ini bersifat umum, termasuk shalat, sedekah, puasa, berzikir, membaca al-Qur’an, berbuat baik kepada orang tua dan sebagainya.[6]
  5. Termasuk amal shaleh yang paling dianjurkan pada waktu ini adalah berpuasa pada hari ‘Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah)[7], bagi yang tidak sedang melakukan ibadah haji[8], karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang puasa pada hari ‘arafah, beliau bersabda,

أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ
“Aku berharap kepada Allah puasa ini menggugurkan (dosa-dosa) di tahun yang lalu dan tahun berikutnya.”[9]
  1. Khusus untuk puasa, ada larangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukannya pada tanggal 10 Dzulhijjah[10], maka ini termasuk pengecualian.
  2. Dalam hadits ini juga terdapat dalil yang menunjukkan bahwa berjihad di jalan Allah Ta’ala adalah termasuk amal yang paling utama[11].

Rujukan
    [1] HSR al-Bukhari (no. 926), Abu Dawud (no. 2438), at-Tirmidzi (no. 757) dan Ibnu Majah (no. 1727), dan ini lafazh Abu Dawud.
    [2] 2/382- Bahjatun Naazhirin.
    [3] Lihat keterangan Imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab Latha-iful Ma’aarif (hal. 19-20).
    [4] Lihat Tafsir Ibnu Katsir (4/651) dan Latha-iful Ma’aarif (hal. 20).
    [5] Fathul Baari (2/460).
    [6] Lihat keterangan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam Syarhu Riyadhis Shalihin (3/411).
    [7] Lihat keterangan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam as-Syarhul Mumti’ (3/102).
    [8] Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak puasa pada hari itu ketika melakukan ibadah haji, sebagaimana dalam HSR al-Bukhari (no. 1887) dan Muslim (no. 123). Lihat kitab Zaadul Ma’ad (2/73).
    [9] HSR Muslim (no. 1162).
    [10] Sebagaimana dalam HSR al-Bukhari (no. 1889) dan Muslim (no. 1137).
    [11] Lihat Syarhu Riyadhis Shalihin (3/411).

    Thursday, November 3, 2011

    Puasa di hari 'Arafah

    PUASA SUNAT (HARI 'ARAFAH)

    Bilakah hari ‘Arafah? Apa dalil bagi kelebihan puasa hari ‘Arafah?

    Hari ‘Arafah ialah hari sembilan Zulhijjah. Ia adalah hari terbaik sepanjang tahun kerana Nabi s.a.w. bersabda; “Tidak ada hari yang paling banyak Allah membebaskan hambanya pada hari tersebut dari neraka dari hari ‘Arafah” (Riwayat Imam Muslim).

    Adapun disunatkan berpuasa pada hari tersebut, dalilnya ialah; hadis dari Abu Qatadah r.a. yang menceritakan; Nabi s.a.w. ditanya tentang puasa hari ’Arafah. Baginda bersabda; “(Puasa hari itu) dapat menghapus dosa tahun lalu dan yang akan datang” (Riwayat Imam Muslim).

    Adakah sunat berpuasa pada hari ‘Arafah itu ada pengecualian?

    Ya. Dikecualikan dari jamaah haji. Mereka tidak disunatkan berpuasa pada hari tersebut sebagai mencontohi Nabi s.a.w. dan juga untuk menjaga kekuatan bagi memperbanyakkan berdoa pada hari itu.

    Maimunah isteri Rasulullah s.a.w. menceritakan; orang ramai ragu-ragu apakah Rasulullah s.a.w. berpuasa atau tidak pada hari ‘Arafah. Lalu ia (yakni Maimunah) menghantar kepada baginda satu bekas berisi susu tatkala baginda sedang berwukuf di Padang ‘Arafah itu. Lalu baginda meminum susu tersebut dengan dilihat oleh orang ramai kepadanya (Riwayat Imam Muslim).

    Malah terdapat tegahan dari Nabi s.a.w. sebagaimana yang diceritakan oleh Abu Hurairah r.a.; “Sesungguhnya Nabi s.a.w. menegah dari berpuasa pada hari ‘Arafah bagi jamaah haji yang berada di ‘Arafah” (Riwayat Imam Abu Daud, Ahmad, Ibnu Majah dan al-Hakim).